Selasa, 26 April 2011

Pertumbuhan Ekonomi Spasial di Indonesia Tahun 2005-2010.


Besaran dan disparitas PDRB

Berdasarkan besaran PDRB di Indonesia, terlihat bahwa sejak tahun 2005-2010 ada 9 Provinsi yang mempunyai besaran PDRB secara rata-rata di atas 100 trilyun rupiah. Provinsi-provinsi tersebut adalah DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Riau, Sumatera Utara, Banten dan Sumatera Selatan.

Berdasarkan sektoral ke sembilan provinsi tersebut, DKI Jakarta didominasi oleh sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran disamping sektor Industri dan Jasa Pemerintahan; sedangkan provinsi Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah didominasi oleh sektor pertanian terutama bahan makanan, sektor Industri dan sektor Perdagangan, hotel dan Restoran kelebihan ini didukung oleh sistem irigasi yang sudah lebih baik disamping akses transportasi baik kondisi jalan, pelabuhan maupun bandara yang mendukung. Provinsi Kalimantan Timur mempunyai potensi pertambangan baik migas maupun non migas seperti minyak, LNG dan batu bara disamping industri pengolahan minyak dan gas bumi. Provinsi Sumatera Utara sebagai salah satu pusat pertumbuhan di Sumatera mempunyai potensi pertanian khususnya sub sektor perkebunan dan tanaman bahan makanan disamping potensi perdagangan, hotel dan restoran.

Besaran nilai PDRB kurang dari 10 trilyun sepanjang tahun 2005-2010 terjadi di empat provinsi yaitu: Sulawesi Barat, Maluku, Gorontalo dan Maluku Utara.

Berdasarkan masterplan dari arah yang ditetapkan dalam UU No 17/2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, pemerintah saat ini sedang mengarahkan pembangunan ke enam koridor ekonomi.

Keenam koridor ekonomi tersebut adalah pertama, Koridor Ekonomi 1:Sumatra sebagai pusat sentra produksi dan pengolahan hasil bumi dan lumbung energi nasional. Kedua, Koridor Ekonomi 2: Jawa sebagai pendorong industri dan jasa Nasional. Ketiga, koridor ekonomi 3: Kalimantan sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil tambang dan lumbung energi nasional.

Selanjutnya keempat, koridor ekonomi 4:Sulawesi-Maluku Utara sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan nasional, kelima,koridor ekonomi 5: Bali-Nusa Tenggara sebagai pintu gerbang pariwisata dan pendukung pangan nasional, serta keenam, koridor ekonomi 6: Papua-Maluku sebagai pengolahan sumber daya alam yang melimpah dan SDM yang sejahtera.

Peranan Koridor Perekonomian

Ditinjau dari sudut spasial, maka perekonomian Indonesia masih didukung sebagian besar di koridor Jawa dan koridor Sumatera yang berperan sekitar 67,74 persen. Koridor Kalimantan berperan 8,08 persen, Sulawesi-Maluku Utara berperan 3,58 persen; koridor Bali-Nusa Tenggara sekitar 2,23 persen dan koridor Papua-Maluku berperan sekitar 1,70 persen.

Pertumbuhan Ekonomi 2005-2010

Selama tahun 2005-2010, pertumbuhan ekonomi provinsi-provinsi bervariasi antara -3,17 persen hingga 10 persen. Pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi di Papua Barat (10 persen), diikuti Sulawesi Tenggara (8,55 persen), Banten dan Sulawesi Barat (8,44 persen) serta Sulawesi Tengah (8,11 persen). Sedangkan pertumbuhan ekonomi terendah terjadi di Aceh (-3,17 persen) dan Kalimantan Timur (3,30 persen).

Pertumbuhan di Papua Barat, Aceh dan Kalimantan Timur lebih didominasi oleh sektor Pertambangan migas dan non migas, sehingga fluktuasi setiap tahun tergantung dari kemampuan eksploitasi dan eksplorasi dari Sumber Daya Alam. Sedangkan untuk provinsi Banten dan Sulawesi Barat disamping potensi perkebunan juga disebabkan pesatnya pembangunan konstruksi sebagai dampak wilayah pemekaran wilayah.

Secara spasial pertumbuhan ekonomi 2005-2010 tertinggi terdapat di Koridor ekonomi 4: Sulawesi-Maluku Utara yang tumbuh rata-rata 7,36 persen per tahun, diikuti oleh koridor ekonomi 6:Papua-Maluku yang tumbuh rata-rata 7,16 persen per tahun. Selanjutnya koridor ekonomi 2: Jawa yang tumbuh rata-rata 5,97 persen per tahun. Koridor ekonomi 5:Bali-Nusa tenggara mampu tumbuh rata-rata 5,57 persen per tahun.

Koridor ekonomi 1:Sumatera hanya mampu tumbuh rata-rata 4,63 persen per tahun selama tahun 2005-2010 dan terendah adalah koridor ekonomi 3:Kalimantan dimana hanya mampu tumbuh sekitar 4,17 persen per tahun.

Proyeksi pertumbuhan Koridor Ekonomi

Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi Nasional 7 persen di tahun 2012, maka selama dua tahun kedepan koridor ekonomi 1: Sumatera diharapkan tumbuh rata-rata 6,2 persen per tahun didukung kerjasama ekonomi Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) dengan sentra produksi pertanian (khususnya perkebunan sawit dan karet), pertambangan migas di provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau, serta sentra industry pengolahan terutama di provinsi Sumatera Utara dan Sumatera bagian Selatan. Sedangkan koridor ekonomi 2:Jawa diharapkan dapat tetap tumbuh tinggi yaitu sekitar 7,1 persen per tahun, sebagaimana kondisi saat ini masih menjadi sentra industri pengolahan disamping perdagangan, hotel dan Restoran.

Koridor ekonomi 3:Kalimantan selama dua tahun kedepan diharapkan dapat tumbuh sekitar 6,2 persen per tahun dengan dukungan Brunei-Indonesia-Malaysia-Phillipina East Asia Growth Area (BIMP-EAGA) dengan potensi sektor pertanian (perkebunan sawit, karet dan kehutanan), serta sektor pertambangan Migas dan Non Migas di wilayah Timur Kalimantan. Koridor ekonomi 4:Sulawesi-Maluku Utara, diharapkan dapat memacu pertumbuhan selama dua tahun kedepan sekitar 8,9 persen per tahun agar dapat menyusul ketertinggalan dibandingkan koridor Jawa dan Sumatera dengan potensi di sektor pertanian (perkebunan kakao, kelapa dan perikanan, peternakan).

Koridor ekonomi 5:Bali-Nusa Tenggara pada dua tahun kedepan diharapkan dapat tumbuh minimal sekitar 6,6% per tahun dengan potensi pariwisata serta pertambangan. Sedangkan koridor ekonomi 6: Papua-Maluku diharapkan selama dua tahun kedepan dapat tumbuh sebesar 3,5% per tahun dengan sektor pertambangan dan penggalian sebagai potensi utamanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar